11 Sep 2026
Gerung, 11 September 2026 - Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Kabupaten Lombok Barat melalui Bidang Pemerintahan Digital dan Persandian menerima audiensi ICT Watch dalam rangka membahas peluang kolaborasi dan dukungan terhadap Program Child Lens, sebuah program riset partisipatif yang berfokus pada perlindungan anak dan remaja dari risiko eksploitasi serta kekerasan seksual di ruang digital.Audiensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan organisasi masyarakat sipil dalam menghadapi berbagai tantangan perlindungan anak di era digital. Pertemuan juga membahas hasil sementara dan agenda keberlanjutan Program Child Lens, termasuk penguatan literasi digital, digital parenting, advokasi kebijakan, kampanye Safe Online, serta pemanfaatan hasil riset anak dan remaja sebagai bahan evaluasi kebijakan.Program Child Lens merupakan inisiatif ICT Watch bersama PLAN Indonesia dengan dukungan Safe Online yang dilaksanakan pada periode 20252027. Berdasarkan dokumen program, Child Lens merupakan program riset partisipatif berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang memberdayakan anak dan remaja sebagai peneliti muda untuk mengidentifikasi kerentanan mereka terhadap eksploitasi dan kekerasan seksual daring atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA). Program tersebut dilaksanakan di empat wilayah dengan karakteristik berbeda, yaitu Jabodetabek, Sukabumi, Lembata, serta Lombok yang mencakup Lombok Barat dan Lombok Timur.Dalam audiensi, ICT Watch menjelaskan bahwa salah satu pendekatan utama Program Child Lens adalah melibatkan anak dan remaja secara aktif sebagai subjek penelitian, bukan hanya sebagai objek kebijakan. Pelibatan tersebut dilakukan agar pengalaman, pandangan, serta pemahaman anak mengenai lingkungan digital dapat menjadi bagian penting dalam penyusunan rekomendasi perlindungan anak. Program ini melibatkan peneliti muda berusia 12 hingga 18 tahun yang didampingi oleh peneliti dewasa. Untuk wilayah Lombok, anak-anak dari Lombok Barat dan Lombok Timur dilibatkan dalam proses penelitian dengan pendampingan peneliti dewasa.Pendekatan tersebut menjadi penting karena pengalaman anak dalam menggunakan internet dan media sosial dapat berbeda berdasarkan lingkungan tempat mereka tumbuh. Perbedaan karakteristik wilayah perkotaan dan pedesaan menjadi salah satu perhatian dalam penelitian untuk melihat bagaimana anak mengenali, menghadapi, dan merespons berbagai risiko yang muncul di ruang digital.Dalam dokumen Terms of Reference (TOR), Child Lens disebut melibatkan 60 peneliti muda berusia 1218 tahun dari empat wilayah dan berlangsung selama 18 bulan, mulai Oktober 2025 hingga Maret 2027. Tahapannya mencakup persiapan penelitian, riset lapangan, hingga pascapenelitian berupa diseminasi hasil, advokasi digital parenting, dan kampanye Safe Online.Dalam pemaparannya, ICT Watch menjelaskan bahwa salah satu tujuan Program Child Lens adalah mengeksplorasi resiliensi, talenta, dan kemampuan anak dalam melindungi dirinya sendiri di ruang digital, sekaligus mengidentifikasi berbagai kerentanan yang mereka hadapi. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain sexting, grooming, eksploitasi seksual daring, serta paparan terhadap materi seksual atau konten negatif.Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Anak-anak kini tidak hanya menghadapi risiko dari interaksi langsung melalui media sosial, tetapi juga berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi, termasuk manipulasi gambar menggunakan AI dan penyebaran konten pribadi secara tidak bertanggung jawab.ICT Watch menilai bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, komunitas, organisasi masyarakat sipil, sektor profesional, hingga penyedia platform digital.Dalam TOR Program Child Lens juga ditegaskan bahwa upaya perlindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan anak dan remaja secara aktif agar kebijakan dan langkah pencegahan dapat disusun sesuai kebutuhan serta pengalaman mereka.Kepala Bidang Pemerintahan Digital dan Persandian Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat, Sumirah, S.Kom., M.Eng., menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ICT Watch dan PLAN Indonesia melalui Program Child Lens. Menurutnya, isu perlindungan anak di ruang digital menjadi perhatian penting seiring semakin luasnya penggunaan internet oleh anak-anak dan remaja.> Ruang digital juga bukan ruang yang sepenuhnya aman bagi anak-anak. Karena itu, perlindungan dan literasi digital kepada anak menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian bersama. Program seperti Child Lens ini sangat penting karena melibatkan anak secara langsung untuk memahami dan menyampaikan pengalaman mereka di ruang digital.Sumirah menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Diskominfotik juga memiliki perhatian terhadap penguatan literasi digital bagi peserta didik. Menurutnya, kolaborasi dengan ICT Watch dapat menjadi salah satu langkah untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus memperkuat kapasitas anak dalam menghadapi berbagai risiko di internet.Ia juga menyampaikan bahwa Diskominfotik memiliki sejumlah inisiatif yang berkaitan dengan literasi dan inklusi digital, termasuk program yang menyasar peserta didik, perempuan, masyarakat, serta kelompok lainnya.> Kami melihat banyak sekali ruang kolaborasi yang bisa kita bangun. Dari sisi narasumber, materi, pelatihan, pembuatan konten, maupun mobilisasi peserta, tentu bisa kita diskusikan bersama. Yang paling penting adalah bagaimana kegiatan ini memberikan manfaat langsung bagi anak-anak dan masyarakat Lombok Barat.Salah satu gagasan yang muncul dalam audiensi adalah pengembangan ruang digital khusus anak pada kanal informasi pemerintah daerah. Ruang tersebut nantinya dapat menjadi wadah yang berisi berbagai informasi, bahan pembelajaran, materi literasi digital, video edukasi, serta referensi yang ramah dan relevan bagi anak-anak. Menurut Sumirah, pengembangan ruang digital tersebut dapat menjadi bagian dari inovasi Diskominfotik dalam memperluas akses masyarakat terhadap materi literasi digital yang berkualitas.Ruang digital bagi anak juga dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk ICT Watch, PLAN Indonesia, komunitas, sekolah, maupun organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu perlindungan anak.Dengan tersedianya satu ruang khusus, anak-anak, orang tua, guru, dan masyarakat dapat memperoleh referensi yang lebih mudah mengenai keamanan digital dan pemanfaatan teknologi secara positif. Dalam audiensi tersebut, ICT Watch juga memperkenalkan microsite Anak Digital sebagai salah satu sumber bahan edukasi mengenai anak dan dunia digital. Microsite tersebut berisi kumpulan bahan belajar, bahan bacaan, video edukasi, referensi terkait anak dan AI, serta berbagai materi dari organisasi masyarakat sipil maupun lembaga terkait.ICT Watch menyampaikan bahwa microsite tersebut dapat dimanfaatkan oleh Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat sebagai salah satu sumber referensi dalam kegiatan literasi digital bagi anak, orang tua, guru, dan masyarakat. Program Child Lens sendiri secara resmi diarahkan untuk menghasilkan, mempublikasikan, dan menyebarluaskan hasil riset sebagai bahan penguatan perlindungan anak di ruang digital serta mendorong pemanfaatannya dalam penguatan kebijakan dan program perlindungan anak.Selain literasi digital bagi anak, audiensi juga menekankan pentingnya digital parenting. Menurut peserta audiensi, edukasi kepada anak saja tidak cukup karena lingkungan digital anak juga dipengaruhi oleh orang tua, guru, teman sebaya, dan lingkungan sosial lainnya. Karena itu, peningkatan kapasitas orang tua dan pendidik menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital yang aman bagi anak.Melalui digital parenting, orang tua diharapkan mampu memahami aktivitas digital anak, mengenali potensi risiko, membangun komunikasi yang sehat mengenai penggunaan teknologi, serta memberikan pendampingan yang sesuai tanpa mengabaikan kebutuhan anak untuk berkembang secara mandiri. ICT Watch dan PLAN Indonesia dalam Program Child Lens juga menempatkan advokasi penerapan Digital Parenting di tingkat pemerintah daerah dan sekolah sebagai salah satu agenda keberlanjutan program.Audiensi juga berkembang pada pembahasan mengenai peluang kolaborasi di bidang kecerdasan artifisial (AI). Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat menyampaikan berbagai upaya yang sedang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas guru dan peserta didik dalam memahami serta memanfaatkan AI secara tepat. Pelatihan diarahkan tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, misalnya untuk membantu guru menyusun perangkat pembelajaran dan membantu peserta didik menggunakan AI secara positif dalam proses belajar dan berkarya.ICT Watch menyampaikan bahwa pihaknya juga memiliki program pelatihan AI yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, termasuk guru dan tenaga pendidik. Hal tersebut membuka peluang kolaborasi lebih lanjut untuk memperluas akses peningkatan kompetensi digital bagi tenaga pendidik di Lombok Barat.Kolaborasi tersebut dinilai strategis karena guru memiliki posisi penting dalam membentuk budaya pemanfaatan teknologi yang aman dan produktif di lingkungan sekolah. Salah satu tujuan utama audiensi adalah memastikan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti muda tidak berhenti sebagai dokumen atau laporan.Hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi bahan advokasi, rekomendasi, dan masukan berbasis data bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi maupun mengembangkan kebijakan perlindungan anak di ruang digital. ICT Watch berharap anak-anak yang terlibat sebagai peneliti muda dapat memiliki ruang untuk menyampaikan temuan mereka secara langsung kepada para pemangku kepentingan.Dengan demikian, pengalaman dan perspektif anak dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Dalam dokumen program, salah satu tujuan Child Lens adalah menghasilkan dan menyebarluaskan hasil riset serta mendorong pemanfaatannya dalam penguatan kebijakan dan program perlindungan anak. Program tersebut juga diarahkan untuk membangun peluang kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lainnya.Ke depan, ICT Watch bersama mitra akan melanjutkan sejumlah agenda pascapenelitian, antara lain diseminasi hasil riset, dialog publik, advokasi kepada pemerintah dan sektor swasta, penguatan digital parenting, serta kampanye Safe Online. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian anak dengan berbagai pemangku kepentingan sehingga temuan di lapangan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata.ICT Watch juga membuka peluang kolaborasi dengan Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat dalam pengembangan konten edukasi dan kampanye melalui kanal media sosial maupun website pemerintah daerah.Kolaborasi komunikasi dinilai penting untuk memperluas jangkauan pesan mengenai keamanan digital dan perlindungan anak, khususnya kepada masyarakat Lombok Barat dan wilayah Nusa Tenggara Barat.Dalam TOR, rangkaian program mencakup audiensi dan advokasi, dukungan atau komitmen kolaborasi, penguatan kebijakan perlindungan anak di ruang digital, digital parenting, serta kampanye Safe Online.Diskominfotik Lombok Barat menyambut baik peluang kolaborasi yang ditawarkan ICT Watch. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan kegiatan sesaat, tetapi diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama jangka panjang dalam memperkuat ekosistem literasi dan keamanan digital. Sumirah menyampaikan bahwa Diskominfotik siap mendukung sesuai kapasitas dan kewenangan, terutama dalam penyediaan narasumber, pengembangan konten, edukasi digital, serta penguatan koordinasi dengan perangkat daerah terkait. Dalam konteks perlindungan anak, kolaborasi juga dapat melibatkan perangkat daerah yang menangani urusan sosial dan perlindungan anak, sekolah, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya.Dengan pendekatan lintas sektor, upaya perlindungan anak di ruang digital diharapkan tidak berjalan secara parsial, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan dan masyarakat.Audiensi antara Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat dan ICT Watch menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus diiringi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang berkembang sangat cepat.Melalui Program Child Lens, anak dan remaja diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari proses penelitian dan penyusunan rekomendasi. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan perspektif yang lebih dekat dengan pengalaman nyata anak dalam menghadapi dunia digital. Bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, kolaborasi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat program literasi digital, meningkatkan kapasitas guru dan orang tua, mengembangkan konten edukasi yang ramah anak, serta memperkuat kebijakan perlindungan anak di ruang digital.Ke depan, Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat bersama ICT Watch dan para pemangku kepentingan terkait akan terus membuka ruang kolaborasi melalui diseminasi hasil riset, dialog publik, pelatihan, digital parenting, pengembangan konten edukasi, serta kampanye Safe Online. Upaya tersebut diharapkan dapat membangun lingkungan digital yang tidak hanya produktif dan inovatif, tetapi juga aman, inklusif, dan ramah bagi anak, sekaligus memastikan suara anak menjadi bagian penting dalam pengembangan kebijakan dan program pemerintahan digital di Kabupaten Lombok Barat.(Diskominfotik Kabupaten Lombok Barat)Credit: Tim Bidang Pemdigi#DiskominfotikLobar #PemerintahanDigital #ChildLens #ICTWatch #LiterasiDigital #PerlindunganAnak #DigitalParenting #SafeOnline #KeamananDigital #LombokBarat Sumber: Diskominfo Kabupaten Lombok Barat